2018/04/26

Assalamu'alaikum. I'm back with my second post!

Hari ini aku akan bahas mengenai Quarter Life Crisis Go To The Goal of Life. Apa itu?
Nah selama tahun 2018 kalian pasti sudah punya rentetan Goals atau Resolusi, kan?

Kalian bisa sebutkan di kolom komentar biar aku amiinkan yah..

Photo by Becca Tapert on Unsplash

Bicara soal resolusi. ini bisa jadi acuan keberhasilan seseorang selama satu tahun atau beberapa bulan ke depan. Tapi jika ditilik, Resolusi hanya sebagian kecil dari Tujuan hidup kita.

Hampir di setiap negara usia 20 tahunan merupakan penanda seseorang telah dewasa, sama hal nya di Indonesia. Pada usai ini pula seseorang telah dianggap mandiri, karena itu biasanya beberapa orang akan merasakan suatu beban tersendiri untuk menuju ketingkatan yang lebih mapan. Mulai dari mengubah pola pikir, tingkah laku dan segala urusan yang menandakan ia telah melalui masa-masa remaja yang penuh gejolak dan ketidakstabilan.

Ok. sekarang aku ingin mengajak kalian jujur dengan menjawab pertanyaan ini untuk diri kalian sendiri.

1. Apa cita-cita kalian?
2. Apa tujuan hidup kalian?
3. Apa rencana setelah lulus (SMA/Kuliah)?
4. Sudahkah kalian memiliki rencana dalam karier?
5. Apa yang sudah kalian miliki sampai hari ini?
6. Apa pekerjaan kalian sudah menggambarkan cita-cita kalian?

Ada yang masih bingung dalam menjawabnya?

Tidak apa, di usiaku pun yang sudah kepala dua ini masih bingung dalam menjawab semua pertanyaan di atas. Bukan karena aku tidak tahu apa cita-cita yang ingin aku capai, tapi ada banyak faktor lainnya. Terlebih jika aku perhatikan apa yang ingin aku kejar semuanya hanya berdasarkan kesenangan semata.

Pada intinya, seseorang pernah mengatakan bahwa hal ini biasa terjadi selama periode usia 20-an dikarenakan usia transisi, dan ternyata situasi ini dinamakan Quarter Life Crisis.


is a period of life ranging from twenties to thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult - Wikipedia.org 

Atau dalam bahasa Indonesianya Krisis seperempat baya adalah situasi dimana orang-orang berusia 20 - 30 tahun merasa bingung dan mempertanyakan tujuan hidupnya guys. Mereka akan mengalami rasa kekhawatiran dan ketidakpastian serta kekacauan batin. Biasanya puncaknya terjadi di usia 25 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan usia di atas 25 tahun pun masih mengalaminya, walaupun jika kita lihat usia ini adalah usia mapan, kan?

Sebagian orang menganggap jangan terlalu membawanya menjadi masalah serius, karena hal ini pasti dialami oleh kebanyakan orang. Tapi menurutku guys, kita juga gak boleh main pasrah yah gak? kita bisa ambil tindakan untuk mengatasinya atau bebenah lah mulai merancang untuk masa depan kita nantinya.

Secara psikologis usia 20an disebut dengan masa Dewasa Awal akan banyak hal mengejutkan yang dialami seseorang untuk terlepas dari masa Remaja.

Betikut beberapa hal bisa menjadi penyebab seseorang mengalami Quartet Life Crisis.

1. Kemandirian 

Menjadi seseorang yang mandiri adalah goal setiap orang. Baik mandiri secara Mental & Ekonomi. Mengapa secara Ekonomi perlu?
Seseorang yang telah memasuki masa Dewasa Awal di tuntut dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Apabila ada ketimpangan di salah satunya, maka seseorang masih belum dapat di katakan Mandiri.

2. Membandingkan Diri

Melihat orang lain lebih sukses dari diri kita, tentu bisa membuat kita semakin down. Maka berhentilah untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Dan mulai lah untuk melihat ke dalam diri kita untuk menemukan potensi-potensi besar yang bisa mengantarkan diri kita pada kesuksesan.

3. Mengejar Passion 

Sekarang saatnya untuk mengenal diri kita lebih dari siapa pun. Cobalah tanya kan pada diri kita, Apa kelebihan kita? Kembangkanlah! bisa jadi kamu akan merasa bingung.

Wajar saja, sebab secara spontan orang akan lebih mudah dalam menjawab kekurangan dirinya dari pada kelebihannya.

Bicara soal Passion sebetulnya tidak harus berkaitan dengan keahlian seseorang. Bisa jadi ketika kamu mencoba hal yang baru atau yg biasa kamu kerjakan, dan kamu menemukan peluang kesuksesan disana itulah Passion.

4. Cari Teman Dekat &/ Komunitas

Terkadang kesendirian membuat kita merasa nyaman dan bebas karena kita bisa berbuat semaunya. Tapi lama-lama bukan hal yang baik yang akan kita rasakan guys, sebab setiap pemikiran, perasaan akan diolah oleh diri kita sendiri, sehingga membuat kita akan berfikir sempit dan menumbuhkan rasa ketidakpuasan terhadap hal tertentu.

Jadi, ada baiknya kita memiliki teman dekat dan/ atau komunitas untuk tetap memiliki pandangan dan pengalaman yang luas. hal terpenting adalah untuk mengembangkan diri dan  menghindarkan kita dari tekanan Psikologis.

5. Bermanfaatlah untuk Orang Lain. 

Pernah tidak kalian menyadari, Orang tua selalu memiliki rejeki untuk anaknya, meskipun tidak selalu pada saat kita memintanya.  Kenapa demikian? Sebab ia memiliki orang lain (anak) yang harus ia pikirkan. Menjadikan anaknya/ keluarganya sebagai Motivasi dirinya, maka orang tua memikirkan segala cara untuk dapat memenuhinya dan saat itulah mereka sedang memacu dirinya bekerja secara maksimal.

Percayalah kalau kita berfikir segala sesuatu hanya untuk diri sendiri, Allah akan menyempitkan rejeki dan kesuksesan kita. Bukankah dalam setiap harta kita ada hak orang lain?

Maka itulah pesan Allah agar kita mampu bermanfaat bagi orang lain, lebih bagus lagi tidak hanya sebatas keluarga. Bukankah Rasulullah bersabda;

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain 

Allah bersabda; "Jika kalian berbuat baik, sesunguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri" (Qs. Al - Israa : 7)

Maka tidak ada ruginya berbuat baik bagi orang lain. Sebab Allah sendiri yang telah menjamin kebaikan itu akan kembali pada kita.

2018/04/25

Photo by Vladislav Muslakov on Unsplash

Assalamu'alaikum. Hari ini cukup panas - Report cuaca dulu yah guys.

Sebetulnya ini tulisan udah pernah aku post tapi berhubung blogku sebelumnya ada masalah, jadi aku buat blog pengalihan ini deh. So this is my first post in the new blog. 😄

Hope you enjoyed!!

Di postingan pertama ini aku akan bahas tentang suatu penyakit Mental yang menular. Apa itu?
Yup! Apalagi kalau bukan M-A-L-A-S.

Aku benar-benar ingin membahas lebih jauh dalam berbagai perspektif, semoga bisa lebih menambah pengetahuan kita untuk segera mengambil tindakan dalam memerangi rasa Malas ini. So, gak usah lama-lama deh hehe..

Malas ialah perasaan enggan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya ia lakukan - EDY ZAQUES:2008

Dalam bahasa Arab. Malas disebut dengan Al-Kaslu sedangkan kata sifatnya disebut dengan Futur, memiliki makna Berat untuk mengerjakan sesuatu dan berhenti dari menyempurnakan sesuatu.

Pada dasarnya setiap orang pasti pernah merasa malas dalam melakukan suatu hal. Meski pun sifat ini berbahaya tetapi merupakan hal yang wajar, sebab ini salah satu tabiat yang Allah ciptakan lekat dengan manusia sebagaimana riwayat yang Nabi sampaikan dalam sebuah hadist berikut; 

Diceritakan kepada Rasulullah SAW tentang orang-orang yang sangat semangat sekali dalam beribadah, maka beliau berkata "Itulah puncak semangat (pengalaman) Islam dan Kesungguhannya. Setiap semangat akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan. Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka" - HR. Ahmad.

Dari penjelasan di atas, betapa berbahayanya penyakit mental yang satu ini. Bahkan Bible pun menjelaskan bahwa;

Malas, merupakan sikap enggan atau tidak mau berupaya atau bekerja; suka berpangku tangan; indolen; lamban - Hak:18:9 

Sekarang sudah bisa kita bayangkan bersama yah guys? Apa yang membuat manusia kurang produktif?

Tentu inilah salah satu penyebabnya yang mengakibatkan kemunduran seseorang dikarenakan kemalasannya, baik malas dalam berfikir maupun dalam berupaya atau melakukan sesuatu sehingga tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya apalagi bagi orang lain. Betapa Ruginya yah guys?

Sebelum suatu sebab terjadi ada beberapa faktor yang mendukung rasa malas menguasai diri kita.
Lalu bagaimana semuanya bisa berkaitan?

1. Tabiat Manusia

Seperti yang telah aku sebutkan di atas bahwa ini adalah sikap yang sengaja Allah tanamkan dalam diri manusia untuk menjadi suatu Tabiat.

Mengapa demikian? Mengapa Allah ciptakan sifat buruk ini?

Tentu bukan tanpa alasan. Segala hal yang baik atau buruk dimata makhluk pasti ada hikmah (sesuatu yang terpendam) di dalamnya.

Tujuannya sederhana untuk menguji keimanan hambanya, tetapi perjuangannya tentu tak semuda itu. Banyak godaan dan perlu usaha keras dalam memeranginya karena bagi yang sudah terlena dengan zona nyaman (Keadaan Malas). Seseorang akan dengan tidak sadar menunda-nunda pekerjaan, cenderung tidak memiliki semangat lebih untuk menuju sempurna, ini jika dilihat dari Malas secara Motorik.

Ada pula malas secara Kognitif yaitu dengan tidak memaksimalkan kemampuan otaknya, merasa rendah diri tidak mampu melakukan suatu pekerjaan yang perkaranya bahkan belum ia coba. Senang mengandalkan orang lain atau seperti yang bible katakan "berpangku tangan" menjadi faktor seseorang malas untuk memacu dirinya lebih, sehingga dengan mudahnya syetan memperdaya manusia dengan mengutuk dirinya, menanamkan ketakutan dan kesulitan.

Padahal dalam Al-Qur'an banyak ayat-ayat yang memerintahkan atau mengisyaratkan manusia untuk berfikir, termasuk memikirkan kebesaran Tuhan-Nya. Dengan begitu jelaslah manusia dianggap makhluk yang lebih mulia dari pada binatang karena dia berakal, kan?
Kalau begitu sudah saatnya kita biasakan diri untuk memikirkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Tapi, patutlah kita merasa lega bahwa Tabiat ini merupakan hal/sifat yang bisa kita minimalisir, tapi jangan lupa untuk tetap meminta perlindungan Allah agar Istiqomah dan terhindar dari penyakit mental ini.

2. Lingkungan

Faktor berikutnya tentu dapat mempengaruhi dan membentuk sifat dan kebiasaan seseorang yaitu dari Lingkungan. Baik dari Lingkungan Keluarga, Pendidikan maupun Masyarakat. 

Aku ingin membagikan pengalamanku saat melamar pekerjaan disalah satu butik kamera di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Ketika aku membaca Visi & Misi butik tersebut sungguh ada perasaan senang, bangga dan lapang hati tapi juga membuatku termotivasi untuk bisa bekerja disana. Biasanya setiap perusahaan selalu memiliki visi dan misi perfect dengan sederet syarat yang ketat. Tapi kali ini sangat berbeda, setiap pekerja di sini diajarkan menjadi pekerja yang senang belajar, mampu bermanfaat bagi sesama pekerja maupun pelanggan yang hanya ingin mencari informasi. Polanya adalah giat dan beramal. 

MasyaAllah, sangat memacu untuk menjadi produktif. Jika lingkungan kita baik akan membantu membentuk pribadi seseorang yang baik pula, begitu pun sebaliknya. Terutama lingkungan pendidikan dan keluarga yang memiliki tanggung jawab lebih.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata; "Betapa banyak orang tua yang membinasakan anaknya. Maksudnya, orang tua sering lalai untuk membedakan makna membantu dan memuaskan nafsu anak, dengan mengabulkan setiap keinginan dengan mudah untuk membuatnya bahagia. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, ini akan membentuk anak menjadi  malas dan tidak ingin berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

3. Banyak Makan & Tidur 

Mungkin kita sering mendengar orang yang biasa bekerja ketika mendapat waktu istirahat yang panjang akan mengeluhkan rasa bosan, karena tidak bisa beraktifitas seperti biasanya dan justru membuat badan terasa lelah.

Namun sebaliknya bagi orang yang terbiasa bermalas-malasan, meski pun pekerjaan mudah, ia akan mengeluh lelah, susah, dan tidak bisa karena bukan bidangnya, karena tidak terbiasa dan berbagai alasan lainnya. Tak ada yang lebih nyaman dari pada beristirahat apalagi tidur.

Penyebab seseorang mudah tidur pun bisa disebabkan karena banyak makan. Orang yang banyak makan akan mudah mengantuk, dan yang ada dipikirannya tak lain hanyalah makanan, sehingga membuat hati kotor serta pikiran sempit karena tak mempu bermanfaat untuk orang lain, serta banyak melewatkan berkah dan rezeki yang telah Allah sebar di muka bumi. Tidak menutup kemungkinan pula bisa jadi hal yang wajib pun seperti Sholat Fardhu akan terlewat.

4. Kurangnya Memotivasi Diri

Sadarkah kita bahwa setiap masalah yang datang pada diri kita sebetulnya disebabkan oleh diri kita sendiri? bukan disebabkan oleh orang lain. Tapi tanpa kita sadari pula kita sibuk mencari solusi terbaik dari orang-orang. Biasanya untuk memilih yang terbaik tidak cukup hanya dari satu orang.

Semakin banyak masukan orang lain yang kita dapat. Bukannya membuat kita merasa terbantu, kadangkala semakin membingungkan. Apalagi jika dirasa masukan tersebut kurang pas dengan kata hati kita, akan membuat kita semakin galau.

Tetapi, kita lupa sobat, bahwa kita sebenarnya memiliki jawaban terbaik untuk setiap masalah, tinggal pilihannya adalah mau atau tidak kita mem-push out diri kita dan melakukannya. Tentu atas seijin Allah, dengan begitu seharusnya kita mampu memberikan & menjaga motivasi diri.

5. Senang BerAngan-angan & Menunda Pekerjaan

Sedikit sudah disinggung di atas (Tabiat) sebab yang terbesar seseorang suka menunda pekerjaan adalah GAGALnya Mengatur Waktu.

Yuk Sejenak kita tengok Qs. Al-Hijr (15:3);

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Biarkan mereka (di dunia ini) makan & bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).

Bukankah berkarya bisa dimulai dari MIMPI? YA! Tidak salah.
yang salah apabila MIMPI - (USAHA & DO'A) = ANGAN KOSONG, karena ketiganya harus berjalan beriringan. Dan hal inilah yang menyebabkan orang mudah bosan dan kehilangan komitmen ketika apa yang diangankan tinggi namun tapi tak sesuai harapan dan malas berusaha lebih ketika mengalami kegagalan.